Kritik Retorika Filsafat HMI

Kritik Retorika Filsafat HMI

(Analisis Materi Filsafat Dalam Pengkaderan HMI)

Oleh; M. Asrul Pattimahu

(Mantan Kabid PPD HMI Cabang Ambon)

HMI Berfilsafat; Filsafat apa?

Diskursus filsafat dalam dialektika HMI telah menjadi sebuah keharusan. Ini karena untuk memenuhi kebutuhan epistemologi HMI dalam melakukan tafsiran terhadap Islam yang dijadikan sebagai azas. Dalam memahaminya sebagai azas, tentunya Islam harus dipahami secara holistik (kaffah) dengan tidak hanya melihat dari satu atau beberapa aspek saja dalam tradisi keilmuan tradisonal keislaman, dan meninggalkan aspek yang lainnya. Antara fiqih, tasawuf, kalam, dan falsafah yang masing-masing memiliki pijakan historis dalam kajian-kajian keislaman tradisional menjadi entrance dalam kajian keislaman secara umum. Kebutuhan ini menjadi semakin penting ketika dalam perkembangannya HMI mempolakan sebuah bentuk pemahaman keislamannya dengan konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NPD) yang dirumuskan oleh Nurcholis Madjid.

Menurut Cak Nur – sapaan akrab Nurcholis Madjid – bahwa, selain keindonesiaan dan kemahasiswaan, kualifikasi HMI sebagai gerakan pemuda adalah keislaman, maka selain harus tampil sebagai pendukung nilai-nilai keindonesiaan dan kemahasiswaan, HMI juga harus tampil sebagai pendukung nilai-nili keislaman. Sekalipun dukungan pada nilai-nilai keislaman itu tetap dalam format yang tidak dapat dipisahkan dari keindonesiaan dan kemahasiswaan. Artinya, penghayatan HMI pada nilai-nilai keislaman itu tidak dapat lepas dari lingkungan keindonesiaan (antara lain demi efektifitas dan fungsionalitas keislamannya itu sendiri), dan juga tidak terlepas dari nilai kemahasiswaan (yaitu suatu pola penghayatan keislaman yang lebih cocok dengan kelompok masyarakat yang menikmati hak istimewa sebagai anggota civitas academica).[1] Dalam hal ini, penulis lebih konsern pada aspek kemahasiswaan, sehingga pemahaman keislaman lebih konsistens dengan predikat civitas academica yang disandang kaders-kaders HMI.

NDP sebagai sebuah “pseudo ideologi”[2] HMI tentunya juga lahir dari bentuk intrepretasi terhadap nilai-nilai Islam secara umum. Kesadaran ini akan melahirkan sikap yang terbuka untuk melihat kemungkinan jalur lain secara fleksibel untuk melakukan tafsiran terhadap Islam, yang karena sifat universalitasnya, maka Islam menjadi semakin terbuka untuk didekati dari berbagai aspek. Meskipun secara konstitusional-normatif NDP telah menjadi dokumen resmi dan merupakan bagian dari ketatapan-ketetapan Kongres, konsep NDP harus dihindari dari adanya sikap prerogatif dalam penafsirannya, sehingga selalu terbuka dalam aksi reinterpretasi. NDP juga tidak harus sekali saja diinterpretasi untuk selamanya, karena akan berakibat pada kejumudan berfikir kaders.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan kontinuitas interpretasi NPD tersebut, diperlukan penguasan praksits terhadap filsafat sebagaimana pendekatan filosofis Cak Nur dalam menyusun NDP. Kalau kita baca NDP itu sendiri sangat sarat dengan muatan filsafat, dan inilah yang menjadikan agak sulit dalam memahaminya, khususnya bagi pemula (kaders baru HMI).

Sebetulnya tuntutan terhadap penguasan dunia filsafat dalam HMI juga tidak selamanya diklaim berkaitan dengan dan untuk memahami NDP, itu hanya sebagian kecil, tetapi juga untuk menentukan sikap-sikap organisasi yang lebih terbuka khususnya terkait dengan dunia filsafat dalam bentuk yang metodologis, untuk mengejewantahkan konspirasi dalam rekayasa pola pengakderan. Yang terakhir ini menjadi semakin penting, karena berkaitan dengan realitas dan kebutuhan kelanjutan HMI dimasa depan.

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah memfokuskan objek kajian filsafat. Dunia filsafat – dengan tidak menganggapnya sebagai hal yang dikotomis – juga berada dalam dunia yang berbeda. Ada istilah “filsafat Islam” yang tertunya lebih dinisbatkan misalnya pada al-Kindi (801-257 M), al-Farabi (870-950 M) dll, sebagai filosof zaman klasik Islam sampai pada Ibn Rusyd pada zaman skolastik (abad Pertengahan), dan ada juga filsafat sekuler (filsafat Barat) yang bersandar pada, misalnya; Rene Descartes (1596-1650 M), – yang dianggap sebagai peletak dasar aliran rasinalisme Barat – De Spinoza (1632-1677) dll. Filsafat manakah yang menjadi rujukan? Apakah filsafat Islam, atau filsafat sekuler?

Mungkin tidak akan selalu benar, dan terkesan subjektif kalau kemudian saya lebih cenderung pada kajian filsafat Islam. Meski akar historis dunia filsafat Islam dan sekuler akan berujung pada filsafat Yunani sebagai inspirasinya, namun keduanya telah mengalami rasionalisasi sesuai dengan ideologi agamanya masing-masing. Filsafat mengalami islamisasi ketika menjadi kebutuhan bagi para filosof Muslim untuk mendapat pijakan epistemologi dalam melegitimasi iman.[3] Dalam kasus perkembngan filsafat sekuler Barat, karena mendapat reaksi dan tantangan yang keras dari pihak gereja ortodoks, filsafat sekuler Barat justru “lari” dari kungkungan agama, sehingga perkembangan filsafatnya menjadi – mengikuti istilah Harun Nasution – “tidak agamis”. Setidaknya inilah yang menjadi argument kenapa harus filsafat Islam.

Filsafat Islam; Sebuah Pengantar

Sebagaimana tertera pada berbagai literatur bahwa, filsafat yang berkembang dalam dunia Islam merupakan warisan dari filsafat Yunani. Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim. Pemikiran-pemikiran filsafat tersebut, oleh para filosof Muslim awal – semisal al-Kindi, Ibn-Sina, al-Farabi – dikembangkan, di “islamisasikan”, dibuat agar sesuai dengan nalar dan logika Islam.

Dalam sejarah pemikiran Islam, filsafat digunakan dalam berbagai kepentingan. Para teolog rasional (mtakallimûn) menggunakan filsafat untuk membela iman khususnya dari para cendekiawan Yahudi dan Kristiani, yang saat itu sudah lebih maju secara intelektual. Sedangkan para filosof mencoba membuktikan bahwa kesimpulan-kesimpulan filsafat yang diambil dari gagasan filsafat Yunani tidak bertentangan dengan iman.[4] Para filosof berusaha memadukan ketegangan antara dasar-dasar keagamaan Islam (Syari’ah) dengan filsafat, atau antara akal dengan wahyu.

Pengaruh filsafat  Yunani inilah yang menjadi pangkal kontrafersi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang “pagan” atau musyrik (penyembah bintang). Inilah yang membuat Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din al-Suyuthi menunjuk kemusyrikan orang-orang Yahudi sebagai alasan keberatan mereka kepada filsafat.[5]

Harus ditegaskan bahwa para filosof Muslim secara umum hidup dalam suasana dan lingkungan yang berbeda dengan filosof-filosof lain, dengan demikian pengaruh lingkungan – agama terhadap jalan pikiran filosof Muslim – tidak bisa terabaikan, sehingga dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.[6]

Perkembangan filsafat dalam Islam juga merupakan buah dari dorongan ajaran al-Qur’an dan hadis, sehingga nuansa berfilsafat para filosof Muslim sangat bermuatan religius, namun tetap tidak mengabaikan masalah kefilsafatan. Kedudukan akal yang tinggi dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut bertemu dengan peranan akal yang besar dan ilmu pengetahuan yang berkembang maju dalam peradaban umat lain.[7]

Dengan demikian filsafat Islam dalam perkembangannya menjadi lebih mandiri dalam berfikir tentang sesuatu, ia dapat berkembang dengan subur, memiliki ciri khas dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran pokok Islam, walaupun secara umum disadari pula bahwa kebanyakan obyek pembahasannya sama, yaitu soal Tuhan, manusia (mikro kosmos), dan alam (makro kosmos).

Lahirnya Pemikiran Filsafat dalam Dunia Islam

Bagi orang Arab, filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran, selama bisa dipahami oleh pemikiran manusia. Nuansa filsafat mereka berakar dari tradisi filsafat Yunani yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan dengan nilai-nilai Islam.[8] Harus ditegaskan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah nabi. Meskipun filsafat memiliki dasar yang kokoh dalam sumber ajaran Islam, namun ia banyak mengandung unsur Hellenisme atau alam pemikiran Yunani.[9]

Filsafat dalam Islam lebih jauh muncul sebagai hasil interkasi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan bangsa-bangsa di sekitarnnya, terutama dengan bangsa-bangsa disebelah utara Jazirah Arab yakni, Syria, Mesir dan Persia. Interkasi ini terjadi setelah gerakan pembebasan (al-futuhat) terhadap daerah-daerah tersebut.[10] Persentuhan antara dunia Islam dengan budaya Yunani bermula ketika bangsa Arab Muslim bergerak menaklukan daerah Bulan Sabit Subur. Khazanah intelektual Yunani yang didapatkan merupakan harta yang tak ternilai harganya.[11]

Berkat politik keagamaan penguasa Mulsim yang dilandasi dengan konsep toleransi keislamannya, umat Islam menyimpan afinitas tertentu terhadap daerah-daerah yang mereka kuasai, yang melahirkan sikap toleran, simpatik dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran-pikiran mereka. Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam tersebut mendasari adanya interaksi intelektual yang positif diantara mereka.

Memang kenyataannya bahwa ketika gerakan al-futuhat dilakukan, orang-orang Arab Muslim ketika itu belum memiliki tradisi belajar yang dapat diwariskan kepada negeri-negeri setelah dikuasai, sehingga mereka lebih banyak menjadi murid dari orang-orang yang mereka kuasai sendiri. Bahkan menurut Philip Hitti, orang-orang Arab Muslim tersebut tercatat sebagai orang yang sangat rakus akan ilmu.[12] Motifasi mendapat ilmu tersebut merupakan bagian dari proses interaksi yang terjalin antara Muslim Arab dengan daerah-daerah taklukannya.

Hasil dari interaksi antara bangsa Arab Muslim dengan daerah-daerah yang ditaklukan itu adalah – seperti yang dikatakan Abraham S. Halkin berikut ini:

… Adalah jasa orang-orang Arab bahwa sekalipun mereka itu para pemenang secara militer dan politik, mereka tidak memandang peradaban negeri-negeri yang mereka taklukan dengan sikap menghina. Kekayaan budaya-budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin ke bahasa Arab segera setelah diketemukan. Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang lain menyantuni para sarjana yang melakukan tugas penerjemahan, sehingga kumpulan ilmu yang bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam bahasa Arab….[13]

Namun sebelum proses terjemahan berbagai literatur kedalam bahasa Arab dilakukan, diperbatasan Persia kajian ilmiah tentang tata bahasa Arab telah dimulai terutama oleh para muallaf[14], hal ini dapat dimaklumi untuk memenuhi kebutuhan bahasa para pemeluk Islam baru agar dapat berinterkasi dengan para penakluk dan penguasa Islam yang memang saat itu telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Nasionalnya. Kajian tata bahasa Arab juga menjadi sebuah kenicayaan untuk mempelajari dan memahami al-Qur’an yang notabenenya berbahasa Arab.

Faktor lain yang sekaligus menjadi faktor utama bagi timbulnya gerakan pemikiran filsafat dalam Islam adalah membanjirnya proses terjemahan berbagai literatur kedalam bahasa Arab. Diantara literatur yang diterjemahkan tersebut adalah buku-buku India, Iran, dan buku Suriani-Ibrani, terutama sekali buku-buku Yunani.[15] Pada pusat-pusat kebudayaan seperti Syria, Mesir, Persia, juga Mesopotamia, pemikiran filsafat Yunani diketemukan oleh kaum Muslimin. Namun kota Baghdad yang menjadi pusat kekuasaan dinasti Abbasiyah menjadi jalur utama masuknya filsafat Yunani kedalam Islam, dan disinilah timbul gerakan penerjemahan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab.[16]

Penerjemahan literatur kedalam bahasa Arab sebenarnya telah dilakukan semenjak dinasti Umayyah yang disponsori oleh Khalid Ibn Yazid dan Umar Ibn Abd. Aziz, namun kegiatan itu hanya untuk kepentingan yang sangat terbatas, yakni yang berhubungan langsung dengan kehidupan praktis, seperti buku-buku kimia dan kedokteran.[17]

Barulah setelah kekhalifaan beralih ke dinasti Abbasiyyah, tepatnya pada khalifah kedua dinasti Abbasiyyah, al-Mansur (754-775 M), proses penerjemahan semakin berkembang dengan pesat. Kegiatan penerjemahan pada masa al-Mansur tersebut seperti ditulis Ahmad Daudy berikut ini:

Khalifah al-Mansur, khalifah Abbasiyyah kedua, adalah seorang khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, terutama ilmu bintang, sehingga ia menyuruh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazazi (ahli ilmu falak pertama dalam Islam) untuk menerjemahkan Sindahind, buku ilmu falak dari India, kedalam bahasa Arab. Juga beberapa buku lain tentang ilmu hitung dan angka-angka India disuruh salin ke dalam bahasa ini. Dari bahasa Persia diterjemahkan kitab Kalilah wa Dimnah yang terkenal itu, dan juga buku-buku yang berasal dari Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Suryani….[18]

Pasca al-Mansur, aktifitas penerjemahan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Harun al-Rasyid (786-809 M) dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Ma’mun (813-833 M). Bahkan dikatakan bahwa titik paling klimas dari pengaruh logika berfikir Yunani kedalam dunia pemikiran Islam terjadi pada masa khalifah al-Ma’mun. seperti di katakana Philip Hitti berikut ini;

Titik tertinggi pengaruh Yunani terjadi pada masa al-Ma’mun. kecederungan rasionalistik khalifah dan para pendukungnya dari kelompok Muktazilah, yang menyatakan bahwa teks-teks keagamaan harus bersesuaian dengan nalar manusia, mendorongnya untuk mencari pembenaran bagi pendapatnya itu dalam karya-karya filsafat Yunani…. Sejalan dengan kebijakan yang ia ambil, pada 830 di Baghdad al-Ma’mun membangun Bayt al-Hikmah (rumah kebijaksanaan), sebuah perpustakan, akademi, sekaligus biro penerjemahan, yang dalam berbagai hal merupakan lembaga pendidikan paling penting sejak berdirinya musium Iskandariyah pada paruh pertama abad ke-3 S.M. Dimulai pada masa al-Ma’mun, dan berlanjut pada masa penerusnya, aktivitas intelektual berpusat di akdemi yang baru didirikan itu….[19]

Demikianlah pada masa al-Ma’mun yang dikenal dengan masa keemasan bagi kegiatan penerjemahan, meskipun hal itu bersifat intrinsik berkaitan dengan kepribadiannya yang antusias kepada ilmu pengetahuan, namun membawa dampak positif yang sangat luas dalam pengembangan intelektual di dunia Islam secara umum. Akademi Bayt al-Hikmah yang dibangun tidak hanya menjadi pusat kegiatan penerjemahan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan filsafat, sains dan ilmu-ilmu lainnya.

Setelah khalifah al-Ma’mun, kegiatan penerjemahan terus dilakukan, namun tidak lagi menjadi urusan khalifah, tetapi lebih menjadi usaha pribadi oleh orang-orang yang gemar dalam hal ilmu pengetahuan. Menjelang abad kesepuluh, kegiatan penerjemahan semakin matang, bahkan naskah-naskah yang diterjemahkan itu telah diberikan beberapa catatan dan komentar.[20]

Berkat adanya usaha-usaha penerjemahan tersebut, umat Islam telah mampu mewarisi tradisi intelektual dari tiga jenis kebudayaan yang sangat maju, yakni Yunani, Persia, dan India. Warisan intelektual tersebut dimanfaatkan dalam membangun suatu kebudayaan ilmu pengetahuan yang lebih maju, seperti yang kelihatan dalam berbagai bidang ilmu dan mazhab filsafat pemikiran Islam.

Membanjirnya berbagai kegiatan penerjemahan pada abad ke-9 tersebut, menunjukkan bahwa pada waktu itu sudah terdapat masyarakat pembaca Arab yang sangat aktif.[21] Fermentasi intelektual masyarakat Islam itu didorong oleh kebutuhan untuk melengkapi Islam dengan perangkat intelektual yang sudah dimiliki oleh agama-agama non-Muslim sebelumnya. Para intelektual Islam tidak hanya menguasai filsafat dan sains tapi juga mampu mengembangkan dan menambahkan hasil observasi mereka kedalam sains, dan lapangan filsafat.

Dengan semakin meluasnya kegiatan ilmiah, pengetahuan semakin maju dan berkembang, mentalitas ilmu semakin terbina dan metode pemikiran semakin terbentuk. Ini semua terecermin dalam kebudayaan intelektual yang lahir sebagai hasil usaha umat Islam dalam suatu kesatuan sinkritis yang dikemudian hari (baca; zaman sekarang) disebut dengan “falsafah atau filsafat Islam”.

Pemahaman Filsafat HMI; kritik materi pengkaderan

Pada pembahasan-pembahasan awal, penulis menguraikan secara kronologis tentang munculnya tradisi berfikir filsafat dalam dunia Islam. Ini sengaja dilakukan agar menjadi pertimbangan utama untuk menganalisis secara kritis dinamika metode cerah materi-materi filsafat dalam perkaderan HMI. Dalam pengalaman penulis mengikuti (atau boleh dikatakan, melakukan pematauan secara tidak langsung) ceramah kefilsafatan khususnya dalam training formal HMI (LK), penegasan tentang akar historis filsafat Islam kurang memadai, sehingga terkesan adanya tendensi yang keliru. Bahwa kemudian pengaruh Hellenisasi itu dalam perkembangannya berhasil mengalami islamisasi, dan ini mendesak menjadi kebutuhan mendasar untuk menguatkan legitimasi hadirnya filsafat dalam Islam.

Mengetahui hal tersebut sangat penting, sehingga sangat memungkinkan kita untuk menggali akar-akar rasonalisasi Islam, tentunya melalui para filosofnya, bagaimanakah proses Islamisasi tersebut terbentuk sehingga filsafat kemudian menjadi bagian dari ilmu-ilmu tradisional dalam Islam.

Selama ini, elaborasi filsafat khas HMI, terlampau melompat sangat jauh sehingga agak banyak memberikan dissatisfaction pemahaman pada kaders HMI, terutama tentunya para peserta Basic Training HMI, yang harusnya pada tingkatan dasar pembelajaran lebih banyak mengetahui problem-problem umum namun diuraikan secara spesifik.

Sebagai contoh; sekiranya usaha elaborative yang dilakukan al-Kindi dalam melakukan pemurnian terhadap konsep tauhid sebagai bentuk awal refleksi filosofis dalam Islam, menjadi entrance bagi perkembangan pemikiran filsafat dalam Islam oleh para filosof sesudah al-Kindi.[22] Usaha al-Kindi kemudian dilanjutkn oleh al-Farabi – dengan suatu sistem metafisika yang dikenal dengan metafisika esensi, yang membedakan antara esensi (zat) dan eksistensi (wujud), filsafat emanasi, filsafat akal dan teori filsafat lainnya – Ibn-Sina (juga dengan teori emanasinya), serta para filosof Muslim lainnya dengan teorinya masing-masing, sejak zaman klasik sampai pada zaman skolastik dengan tokoh utamanya Ibn Rusyd.[23]

Berangkat dari realitas ini, sekiranya pemberian materi filsafat dalam pengkaderan HMI haruslah diciptakan sebuah kondisi afinitas tertentu dengan perjalanan historis – tentunya denan mengungkapkan sejumlah fakta-fakta tertentu – tentang muncul dan berkembangnya pemikiran filsafat dalam dunia Islam, diikuti dengan konsep-konsep filsafat yang dikembangkan oleh filosof-filosof tersebut. Selain untuk melahirkan kasadaran historis – Ini sangat penting untuk menghindarkan sikap eupira yang berlebihan tanpa memahami secara mendalam ruang dan konteks masalah yang dipahami – juga akan sangat berguna bagi sistematisasi pemahaman filsafat sebagai batu loncatan terhadap kajian-kajian keislaman selanjutnya dalam ber-HMI.

Wa-‘l Lâh a‛lam bi al-shawâb


[1] Nurcholis Madjid, Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia, (Cet, I; Jakarta, Paramadina; Januari 1997), h. 89

[2] Istilah pseudo ideologi atau ideologi semu, ini sengaja dipakai untuk tidak menganggap bahwa ideologi keislaman HMI hanyalah NDP dan diluar itu tidak. Meski secara terbuka NDP juga sering disebut sebagai – mengikuti Istilah yang dipakai Azhari Akmal Tarigan dalam bukunya Islam Mazhab HMI – “Islam Mazhab HMI”, atau seperti yang terdapat dalam  Program Kerja Nasional HMI, adalah “Islam versi HMI”.

[3] Filsafat Islam sendiri merupakan suatu cara memberikan penjelasan tentang Islam secara rasional dan liberal, bahkan lebih dar kalam. Kalau dasar-dasar kalam bersifat kegamaan, justru filsafat Islam pertamakali bertitik tolak pada dalil-dalil aql (akal), seperti yang dilakukan oleh guru-guru mereka di Yunani. Perlu juga dikatakan bahwa, filsafat Islam dapat juga berbeda dengan filsafat Yunani, khususnya bila bertentangan dengan prinsip Islam, meskipun cara berfikir dan metode filsafatnya sebagian tetap Yunani. Perbedaan inilah yang memberikan ciri pada filsafat Islam.

[4] Terjadinya ketegangan antara syari’ah dan filsafat ini, mudah dimengerti, sebab dalam Islam, filsafat hanya muncul secara tidak langsung. Berbeda dengan – ilmu-ilmu tradisional Islam lainnya – kalam, tasawuf, dan fiqih, yang menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai point of centre dari keilmuan mereka. Para filosof Islam, justru memakai (terutama) filsafat Yunani sebagai dasar konstruksi teoritisnya untuk melegitimasi iman pada al-Qur’an. Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Cet I, RajaGrafindo Persada, Jakarta, Maret 2004), h. 221

[5] Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, (Cet I, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1994), h. 219

[6] H. A. Musthofa, Filsafat Islam, Untuk Fakultas Tarbiyah, Syari’ah, Dakwah, Adab, dan Ushuluddin, (Cet, III, Pustaka Setia, Bandung, Desember 2007), h. 21

[7] Sirajuddin Zar, Filsfata Islam, Filosof dan Filsafatnya, (Edisi II, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007), h. 16

[8] Philip K. Hitti, History of the Arab, Diterjemahkan oleh R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi, (Cet II, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006), h. 462

[9] Istilah “Hellenisme” pertama kali diperkenalkan oleh ahli sejarah Jerman J. G. Droysen. Ia menggunakan perkataan “Hellenismus” sebagai sebutan untuk masa yang dianggapnya sebagai periode peralihan antara Yunani kuno dan dunia Kristen. Yang dimaksud zaman Hellenik yang merupakan peralihan itu adalah masa sejak tahun 323-30 S.M. Lihat, Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin… Op.Cit, h. 219.

[10] Ibid, h. 220

[11] Philip K. Hitti, Op.Cit, h. 385

[12] Ibid, h. 300

[13] Lihat, Abraham S, Halkin, dalam Nurcholis Madjid, Op.Cit, h. 221-222

[14] Philip K. Hitti, Op.Cit, h. 301

[15] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Cet V, Bulan Bintang, Jakarta, 1991), h. 40. Disebutkan juga bahwa, sebelum pengaruh Hellenisme masuk ke dunia Arab Islam, ia terlebih dahulu melewati bangsa Suriah, sehingga berbagai karya Yunani sebelum diterjemahkan kedalam bahasa Arab, pertama diterjemahkan kedalam bahasa Aramik (Suria). Lihat juga Philip K. Hitti, Op.Cit, h. 386

[16] Sirajuddin Zar, Op.Cit,  h. 35

[17] Ibid

[18] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Cet III, Bulan Bintang, Jakarta, 1992), h. 5

[19] Philip K. Hitti, Op.Cit, h. 386

[20] Ahmad Daudy, Op.Cit, h. 6

[21] Arnold Toynbee, Mankind and Mother Earth, A Narrative History of the World, terjemahan Indonesia oleh Agung Prihantoro dkk, dengan judul, Sejarah Umat Manusia, Uraian Analitis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif, (Cet IV, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007), h. 510

[22] Sebagai tokoh filsafat Islam awal, al-Kindi memang dikenal sebagai orang yang berusaha melakukan rekonsiliasi antara agama (Islam) dengan filsafat. Menurutnya, antara keduanya tidak bertentangan karena keduanya merupakan ilmu tentang kebenaran, sedangkan kebenara itu adalah satu, sehingga tidak mungkin terjadi pertentangan antara keduanya. Pikiran-pikian al-Kindi, selanjutnya dapat dilihat dalam, Sirajuddin Zar, Filsfata Islam, Filosof dan Filsafatnya, H. A. Musthofa, Filsafat Islam, Untuk Fakultas Tarbiyah, Syari’ah, Dakwah, Adab, dan Ushuluddin, Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, dan buku-buku filsafat lainnya.

[23] Pemikiran tokoh-tokoh filsosf Muslim klasik tersebut dapat dilihat dalam, H. A. Musthofa, Filsafat Islam, Untuk Fakultas Tarbiyah, Syari’ah, Dakwah, Adab, dan Ushuluddin, Sirajuddin Zar, Filsfata Islam, Filosof dan Filsafatnya, Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, dan tentunya masih banyak lagi buku yang tidak sempat penulis kutip dalam tulisan ini.

3 thoughts on “Kritik Retorika Filsafat HMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s