MEMBANGUN NILAI-NILAI KE-TAUHIDAN

MEMBANGUN NILAI-NILAI KE-TAUHIDAN

DALAM GERAKAN KEMANUSIAAN

Oleh. M. Asrul Pattimahu

Islam Sebagai Pangkal “Monoteisme”: Sebuah Pengantar

Kepercayaan merupakan sebuah kebutuhan yang mendasar bagi manusia. Di samping kepercayaan merupakan sandaran nilai, kepercayaan juga merupakan fitrah manusia untuk tunduk dan patuh kepada sesuatu yang mutlak dan maha absolut.[1]

Kenyataan bahwa manusia dan kelompok-kelompoknya selalu mempunyai kepercayaan tentang adanya suatu wujud maha tinggi, dan mereka selalu mengembangkan suatu cara tertentu untuk memuja dan meyembahnya, yang menunjukkan dengan pasti adanya naluri keagamaan manusia. Karena pada dasarnya manusia mempunyai naluri untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya, dan disebabkan berbagai latar belakang masing-masing manusia yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat, dari satu masa ke masa, maka agama menjadi beraneka ragam dan berbeda-beda meskipun pangkal tolaknya sama, yaitu naluri untuk percaya kepada wujud maha tinggi.[2]

Sejak kemunculannya hingga kini, nurani manusia selalu menuntut untuk mencari dan menemukan sesuatu yang dianggap kuasa dan perkasa. Perjalanan panjang manusia dalam merumuskan fokus religiusitasnya inilah yang disebut Karen Amstrong – dalam bukunya yang fenomenal tentang Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4000 tahun – sebagai sejarah Tuhan.[3]

Karena naluri tersebut menjadikan manusia berusaha membuat sebuah sistem kepercayaan yang dibangun secara fungsional sesuai dengan tuntutan-tuntutan praktis dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melepaskannya dari gejala-gejala riil disekitarnya. Dari sinilah maka lahirlah berbagai bentuk agama yang berbeda-beda, seperti yang secara umum dikenal dengan animisme, dinamisme, politeisme, dan monoteisme.

Pada dasarnya manusia itu tidak mungkin hidup tanpa mempunyai kepercayaan, akan tetapi kalau terlalu banyak yang dipercayai, maka akan menjerat manusia sendiri, dan tidak akan banyak membuat kemajuan.  Oleh karena itu dari sekian banyak kepercayaan itu harus disisikan yang paling benar.[4]

Semua agama yang benar khususnya yang dibawa oleh para nabi seperti agama atau millat nabi Ibrahim a.s., adalah mengajak manusia untuk berserah diri dengan sepenuh hati, tulus dan damai kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sikap berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan itu yang menjadi inti dan hakikat keagamaan yang benar. Sebuah firman dalam al-Qur’an yang sangat popular menjelaskan;

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah (sikap pasrah) Islam. . . .”[5]

Mengomentari ayat ini, Cak Nur menafsirkan kata Islam sebagai bukan hanya sekedar agama yang bersifat institusional, namun lebih pada makna generiknya yakni, tunduk patuh dan besar diri. Cak Nur menjelaskan bahwa;

Perkataan Islam dalam firman ini bisa di artikan sebagai “Agama Islam” seperti yang telah umum dikenal, yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Pengertian seperti itu tentu benar, dalam maknanya bahwa memang agama Muhammad adalah agama “pasrah kepada Tuhan” (Islam) par excellence (persamaan secara kualitas; penulis). Tetapi dapat juga diartikan secara lebih umum, yaitu menurut makna asal atau generiknya, “pasrah kepada Tuhan”, suatu semangat ajaran yang menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar. Inilah dasar pandangan dalam al-Qur’an bahwa semua agama yang benar adalah agama Islam, dalam pengertian semua mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan.[6]

Dari sudut pandang Islam, pengertian Islam yang disebut Cak Nur dalam makna generiknya sebagai sikap berserah diri tersebut merupakan sumber ide universalisme, bahkan kosmopolitanisme. Sedangkan perkataan Islam itu sendiri menurut perspektif tradisional adalah tuntutan alami (fitrah) manusia, sehingga agama yang sah tidak bisa tidak selain sikap pasrah itu.[7] Jadi ber-islam bagi manusia adalah sesuatu yang alami dan wajar. Maka sikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan itulah jalan lurus menuju kepada-Nya. Menerima jalan lurus itu bagi manusia adalah sikap yang paling fitri, dan merupakan kecenderungan alami manusia.[8] Dalam al-Qur’an dijelaskan;

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku dengan lurus (hanif), kepada Zat yang menciptakan (fathara) langit dan bumi, dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukan Tuhan.[9]

Kata fitrah dalam konteks ayat ini (fatharah) – sebagaimana dijelaskan oleh Dawam Rahardjo – dikaitkan dengan pengertian hanif, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “kecenderungan kepada agama yang benar”. [10] Dan kecenderungan manusia kepada kebenaran itu tak lain ialah ber-Islam.

Artinya bahwa tidak ada agama yang benar selain harus memiliki sikap pasrah (islam), dan agama selain sikap pasrah (islam) itu adalah tidak sejati, dan kelak tidak akan diterima.[11] Oleh sebab itu agama kaum Muslim disebut Islam. Mereka menyebut diri mereka kaum yang “berserah diri” pada Tuhan. Sebagaimana Ibrahim pernah berdoa dengan kata-kata sangat mengharukan yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an;

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.[12]

Jadi dari sekian banyak kepercayaan tersebut, Islam yang dalam makna generiknya artinya “tunduk”, dan “berserah diri” – yang dapat ditangkap dari penjelasan panjang diatas – adalah agama yang paling benar bagi manusia, karena sesuai dengan fitrah dan kecenderungan manusia.[13] Untuk menegaskan soal ini dapat dipahami dari kalimat tauhid untuk mencanangkan dasar kepercayaan manusia; yaitu kalimat Laa ilaaha illa-Allah,[14] yang dapat dipahami dalam dua bentuk “al-nafy wa al-itsbat”, atau “negasi-konformasi, tidak ada tuhan selain Allah,[15] Ketuhanan Yang Maha Esa atau monoteisme, Tauhîd (arab).

Kalimat Laa ilaaha illa-Allah merupakan kalimat persaksian (syahadat), mengucapkan dan meyakini kalimat syahadat bagian dari aqidah Islam karena merupakan hal yang fundamental (asasiyah), sehingga wajib hukumnya bagi setiap orang beriman untuk memahaminya secara shahih.

Kalimat syahadat terdiri dari dua bagian, Laa ilaaha (tidak ada Tuhan) dan illa-Allah Kecuali Allah). Laa yang terdapat dalam kalimat syahadat diatas adalah La nafiyata li ‘l-jinsi, yakni huruf nafi (penghilangan) yang menafikan segala macam jenis ilah. Sedangkan illa adalah istisna (pengecualian), dalam hal ini yang mengecualikan Allah dari segala macam jenis illa yang dinafikan.[16]

Dengan demikian, secara sederhana dapat dipahami bahwa Laa ilaaha berarti membuang seluruh illa, dan illa-Allah berarti menetapkan Allah sebagai satu-satunya illa yang berhak disembah. Atau dengan perkataan lain, menghilangkan “illa-illah” itu harus diikuti dengan menetapkan Allah sebagai illah yang tunggal dalam kehidupan. Inilah agama atau sistem kepercayaan yang benar.

Tauhid; Inti Agama yang Benar

Perkataan “Tauhîd” – di Indonesiakan menjadi “Tauhid”) sudah tidak asing lagi bagi setiap pemeluk Islam. Kata-kata itu merupakan kata benda kerja (verbal noun) aktif (yakni, memerlukan pelengkap penderita atau obyek), sebuah derivasi atau tashrif dari kata-kata “wahid” yang artinya “satu” atau “esa”. Sebagai istilah teknis dalam ilmu kalam (yang diciptakan oleh para mutakllimin atau theology dialektis Islam) kata-kata “Tauhîd” dimaksudkan sebagai paham memahaesakan Tuhan, atau secara sederhananya paham “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atau monoteisme. Kata-kata tauhid juga menggambarkan inti ajaran semua nabi dan rasul Tuhan, dan merupakan inti semua agama yang benar.[17]

Dalam setiap pengelompokkan umat manusia telah pernah mendapatkan ajaran tentang Ketuhanan Yang Maha Esa melalui para rasul Tuhan.[18] Karena itu berdasarkan prinsip ini terdapat titik pertemuan (kalimah sawâ) antara semua agama manusia, dan orang-orang Muslim diperintahkan untuk mengembangkan titik pertemuan ini sebagai landasan hidup bersama.[19] Jadi titik pertemuan utama antara semua agama “samawi” adalah prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.

Karena prinsip dasar ajaran nabi dan rasul itu sama, maka pengikut semua nabi dan rasul adalah umat yang satu dan tunggal. Dengan perkataan lain, konsep kesatuan dasar ajaran membawa kepada konsep kesatuan umat yang beriman. Ini antara lain ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Q., s. al-Anbiyaa’/21:25).

Semua orang Islam pastilah menyakini bahwa seluruh isi al-Qur’an merupakan pesan Tuhan. Bahkan pesan itu tidak hanya terdapat dalam al-Qur’an, tetapi ada dalam semua kitab suci yang diturunkan sebelum al-Qur’an. Disini akan ditulis dua ayat saja yang relefan terkait dengan pesan Tuhan kepada manusia:

“. . . dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah . . . “ (Q., s. an-Nisaa’/4:131).

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya . . .” (asy-Syuura’/42:13).

Pesan-pesan Tuhan diatas menurut Cak Nur sama untuk para pengikut nabi Muhammad, dan juga sama kepada mereka yang menerima kitab suci sebelumnya, yaitu pesan takwa kepada Allah. Pesan Tuhan itu bersifat universal baik secara temporal (untuk segala zaman) maupun secara spatial (untuk segala tempat). Oleh karena itu terdapat kesatuan esensial semua pesan Tuhan, khususnya pesan yang dibawa kepada umat manusia lewat agama-agama samawi.[20]

Pesan yang disampaikan kepada nabi Muhammad adalah sama dengan yang dipesankan kepada nabi Nuh, juga sama dengan yang disampaikan kepada nabi-nabi Ibrahim, Musa dan Isa a.s. (yang ketiga tokoh ini ditambah dengan nabi Muhammad s.a.w., mewariskan “agama-agama Ibrahim” – “Abrahamic Religions”: Yahudi, Kristen dan Islam).

Berkaitan dengan hal ini, menarik sekali mengutip penuturan A. Yusuf Ali, seorang ahli tafsir al-Qur’an terkemuka di zaman modern menuliskan bahwa;

“Dalam esensinya agama Tuhan adalah sama, baik yang diberikan, misalnya, kepada Nuh, Ibrahim, Musa, atau Isa, atau kepada Nabi Besar kita. Sumber kesatuan itu adalah wahyu Tuhan. Dalam Islam, masalah itu “mapan” sebagai suatu lembaga, dan tidak tinggal hanya sebagai dugaan samar-samar saja.”[21]

Mengomentari pendapat Yusuf Ali diatas, Cak Nur menuliskan;

Yang diamksud dengan kesamaan agama seperti dinyatakan oleh Yusuf Ali itu bukanlah kesamaan material atau formal sebagaimana diwujudkan dalam aturan-aturan positif tertentu, bahkan juga tidak dalam pokok-pokok keyakinan tertentu. Agama Islam (agama nabi Muhammad s.a.w.) jelas memiliki segi-segi perbedaan dengan Yahudi dan Kristen, dua agama yang secara “geneologis” (dari nabi Ibrahim) paling dekat dengan Islam. Tetapi yang dimaksud dengan kesamaan disitu, ialah kesamaan dalam pesan besar, yang dalam al-Qur’an dinyatakan dalam kata-kata “washiyyah”.[22]

Membangun Gerakan Kemanusiaan

Setidaknya ada dua aspek penting yang bisa ditangkap dari semangat ketauhidan yang bersifat intrinsik dengan masalah kemanusiaan, artinya bahwa berada dalam diri dan menyangkut dengan manusia itu sendiri. Pertama adalah semangat pembebasan diri self Liberation). Yang kedua adalah masalah emansipasi dan harkat kemanusiaan. Sebelum kita melihat lebih jauh dua aspek semangat nilai tauhid tersebut, sedikit akan diuraikan masalah kemanusiaan yang merupakan hubungan simbiotik dari aspek-aspek tersebut.

Suatu hal yang penting menyangkut dengan eksistensi manusia ialah bahwa dalam penuturan al-Qur’an, manusia merupakan puncak ciptaan Tuhan[23] untuk diangkat menjadi wakil-Nya (khalifah) dibumi.[24] Penciptaan manusia sebagai makhluk yang setinggi-tingginya adalah sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakannya manusia itu untuk menjadi khalifah atau wakil Tuhan di bumi dengan tugas menjalankan “mandat” yang diberikan Tuhan kepadanya untuk membangun dunia ini sebaik-baiknya.

Dalam al-Qur’an dijelaskan, bahwa ketika Tuhan hendak menciptakan manusia sebagai wakil-Nya (khalifah) dibumi, Malaikat secara tegas mempertanyakan kebijakan Tuhan, dengan memberikan argumen bahwa sifat alami manusia adalah berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sementara mereka mengklaim bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk selalu menyembah Tuhan. Hal yang luar biasa adalah bahwa Tuhan menolak klaim Malaikat. Tuhan berkata bahwa, Tuhan lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Malaikat.[25] Jadi disini ada semacam “dialog” antara Tuhan dengan melaikat perihal pengangkatan manusia kelak menjadi wakil Tuhan di bumi.

Dalam dialog selanjutnya, Iblis menyatakan keunggulannya atas manusia dengan mengatakan bahwa mereka diciptakan dari api sementara manusia diciptakan dari tanah liat, dengan asumsi bahwa api lebih tinggi kedudukannya dari tanah liat,[26] mengabaikan fakta bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan tubuh manusia dari tanah liat[27] tetapi telah menganugerahkan kepadanya kemampuan spiritual dan mengejarkan sifat benda-benda kepadanya.[28]

Dalam masalah ini – seperti yang ditulis Cak Nur – Iblis telah melakukan dosa rasisme, yaitu klaim yang tidak adil mengenai superioritasnya atas makhluk lain berdasarkan faktor askriptif (keciptaan), bukan berdasarkan keberhasilan faktual. Ini adalah bentuk pertama rasisme dan merupakan dosa kejahatan berat yang pernah dilakukan makhluk.[29]

Pertama; Semangat Pembebasan Diri. Masalah Tauhid memiliki benang merah dengan masalah pembebasan diri manusia dari sesuatu yang membelenggu manusia. Hal ini akan nampak ketika Tauhid atau paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau monoteisme ini dilihat dari kecenderungan alami manusia – sebagaimana telah dijelaskan dihalaman terdahulu – bahwa secara prinsipil manusia memiliki naluri secara alami untuk percaya kepada sesuatu yang maha absolut. Namun kebanyakan manusia tidak cukup memiliki pengetahuan untuk memahami efek pembebasan dari semangat Tauhid tersebut.

Tauhid berkaitan dengan sikap percaya atau beriman kepada Allah dengan segala implikasinya, namun Tauhid sebagai ekspresi iman, tidak cukup hanya dengan percaya bahwa Tuhan itu Esa (satu), tetapi juga menyengkut pengertian yang benar tentang siapa Tuhan yang benar itu, dan bagaimana bersikap kepada-Nya, dan kepada objek-objek selain Dia.

Disini, dari sudut pandang Islam, problem utama umat manusia menyangkut soal ketuhanan bukanlah ateisme seperti yang diduga oleh para filsuf ketuhanan, [30] namun problem utama umat manusia adalah politeisme atau dalam bahasa agama disebut syirik (percaya kepada banyak Tuhan), yaitu kepercayaan yang sekalipun berpusat pada Tuhan, namun masih membuka paluang bagi adanya kepercayaan kepada wujud-wujud lain yang dianggap bersifat ketuhanan (ilahi).[31] Maka sangat wajar bahwa al-Qur’an sedikit sekali membicarakan masalah ateis.[32] Bahkan ketika dilihat secara mendalam, dapat diuraikan bahwa ateisme sesungguhnya adalah bentuk lain dari politeisme, yaitu menolak adanya Tuhan, namun dalam prakteknya bertuhan juga, karena memutlakkan sesuatu seperti para pemimpin dan pikiran-pikiran mereka.[33]

Sebagai contoh, ketika pada pertengahan abad ke-XVIII (1847) Karl Max mengeluarkan sebuah manifest yang dinamai Communistisch Manifest (Manifesto Komunis) – yang isinya menggembirakan kaum buruh untuk keluar dari kemelaratan akibat tekanan dari semangat individualisme para pemilik modal (kaum majikan) yang melarang mereka (kaum buruh) untuk berserikat. [34] Manifesto Marx ini dimaksudkan sebagai bangunan pemikiran sistematis ilmu pengetahuan. Namun Dalam perkembangannya Marxisme yang diambil dari namanya, oleh para pengikutnya dianggap sebagai ideologi. Banyak pengikut Marx kemudian berubah menjadi sangat arogan, menganggap paling benar sendiri dan menganggap pandangan lainnya adalah salah.[35] Dari sinilah kemudian Marxisme tidak lagi dianggap hanya sekedar menjadi ilmu tetapi telah menjelma menjadi dogma dan dianggap sebagai ideologi.

Marxisme – sebagaimana ditulis Ernest Gellner – merupakan system keyakinan sekuler pertama yang menjadi agama dunia dan ideologi di banyak negara[36] yang dalam perkembangannya mencoba secara sungguh-sungguh untuk menghapus dan untuk melepaskan manusia dari peranan agama. Tetapi percobaan itu, ternyata menemui kegagalan. Marxisme benar-benar tidak mampu menghapus peranan agama dari masyarakat (Eropa Timur), meskipun segenap dana dan daya telah digunakan, justru amat ironis, Marxisme sendiri telah menjadi agama pengganti .[37]


[1] Nurcholish Madjid, Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan Untuk Generasi Mendatang, dalam Ulumul Qur’an, No. I, Vol. IV, 1993, 4-25. Dikutip dari Azhari Akamal Tarigan, Islam Mazhab HMI, Tafsir Tema Besar Nilai-Nilai Dasar Perjuangan, (Cet I; Press Group, Jakarta, Nopember 2007), h. 42. Seruan kepada pada manusia untuk menerima agama yang benar merupakan fitrah Allah, yang atas fitrah itulah manusia diciptakan (Q., s. ar-Ruum). Dengan kata lain, agama merupakan kelanjutan dari natur manusia itu sendiri, dan merupakan wujud nyata dari kecenderungan alaminya. Lihat juga, Nurcholis, Islam Doktrin, h. xiii

[2] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin, h. xix

[3] Buku ini, sebagaimana ditulis Amstrong dalam pengantarnya, bukanlah suatu penuturan tentang sejarah realitas Tuhan, tetapi merupakan sejarah persepsi umat manusia tentang Tuhan sejak era nabi Ibrahim hingga kini. Lihat Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4000 tahun, (Mizan: Bandung, 2001), h. 21

[4] Nurcholis Madjid, Latar Belakang Perumusan NDP HMI, Kata Pengantar dalam, Azhari Akmal Tarigan, Islam Mazhab), h. xxiii

[5] Q., s. al-Imran/3:19

[6] Islam Doktrin, h. 9

[7] Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis; Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Cet. I; RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004), h. 75

[8] Islam Doktrin, h. 2-3

[9] Q., s. al-AN’am/6:79.

[10] Istilah ini dalam al-Qur’an dipakai untuk melukiskan kepercayaan nabi Ibrahim a.s., yang menolak menyembah berhala, bintang, bulan atau matahari, karena semuanya itu tak patut disembah. Yang patut disembah hanyalah zat pencipta langit dan bumi. Dan inilah agama yang benar. Lihat, M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an; Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, (Cet, I; Paramadina, Jakarta, September 2006), h. 40-41.

[11] Q., s. al-Imran/3:85

[12] Q., s. al-Baqarah/2:128.

[13]Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) kepada agama fitrah ciptaan Allah yang Ia ciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itu adalah agama yang benar. Tetapi kebanyakan manusia tidak tahu”. (Q., s. ar-Rum/30:30).

[14] Nurcholis Madjid, Latar Belakang Perumusan NDP HMI, Kata Pengantar dalam, Azhari Akmal Tarigan, h. xxiii

[15] Islam Doktrin, h. 79.

[16] Lihat, Ahmad Mufli Saefuddin, Pembaruan Islam yang Bagaimana, dalam Jalaluddin Rahmat, et.al, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Jejak Pemikiran Dari Pembaharu Sampai Guru Bangsa, (Cet; II, Yogyakarta, Pustaka Pelajar; Agustus 2003), hal. 36

[17] Lihat Nurcholis Madjid, Islam Doktrin, h. 72-73, lihat juga hal, 1.

[18] Dalam al-Qur’an sendiri ditemukan banyak penegasan bahwa setiap pengelompokkan manusia telah didatangi para utusan Tuhan. Antara lain disebutkan, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat…” (Q., s. an-Nahl/16:36), “…dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk (Q., s. ar-Ra’d/13:7). “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan” (Q., s, Faathir/35:24).

[19] Dalam bahasa Arab, “kalimah sawâ”, merupakan kalimat idea atau prinsip yang sama yakni ajaran bersama yang menjadi common platform antara berbagai kelompok manusia. Dalam al-Qur’an Allah menjelaskan, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang pasrah kepada-Nya (muslimun) ” (Q., s. al-Imrân/3:64).

[20] Nurcholis, Islam Doktrin h, 496, h. lihat juga h, 498

[21] A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Translation and Commentary, (Jeddah: Dar al-Qiblah, 1403 H.), h. 1303

[22] Nurchlish, Islam Doktrin, 499

[23] Berbagai keterangan dalam kitab suci menegaskan kedudukan manusia sebagai makhluk Tuhan yang tertinggi, tetapi sekaligus merupakan makhluk yang berpotensi menjadi makhluk yang terendah: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”(Q., s. at-Tiin/95:4-6).

[24] “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Q., s, al-Baqarah/2:30). “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (al-an’aam/6:165). Lihat juga Islam doktrin, h. 8

[25] Cerita ketika Tuhan hendak berkata kepada Malaikat untuk menciptakan khalifah di muka bumi, Lihat, Q., s. al-Baqarah/2:30

[26] Lihat, Q., s. al-A’raaf/7:12

[27] Lihat, Q., s. al-Hijr /5:26,28

[28] Lihat, Q., s. al-Baqarah/2:31-33

[29] Cak Nur, Konsep Islam Tentang Manusia dan Implikasinya terhadap Apresiasi Muslim mengenai Hak-Hak Sipil dan Politik, dalam, Hasan Hanafi dkk, Islam dan Humanisme; Aktualisasi Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Universal, h. 20

[30] Louis Leahy SJ, Masalah Ketuhanan Dewasa Ini, (Jakarta: Kanisius, 1990). Dalam buku ini sebagian besar berisi tentang masalah ateisme dan sebagian lagi perihal pembuktian eksistensi Allah. Sama sekali tidak ada soal kecenderungan politeisme

[31] Diantara manusia memang ada yang tidak percaya kepada Tuhan sama sekali (ateisme), tetapi mereka adalah minoritas kecil dalam masyarakat manapun termasuk dalam masyarakat-masuarakat negeri-negeri komunis yang secara resmi berideologi komunis. Lihat Islam Doktrin, h. 78

[32] Sebuah ayat Qur’an yang sering ditafsirkan sebagai mengacu kepada kaum ateis ialah yang terdapat dalam Q., s. al-Jatsiyah/45:24: “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.

[33] Islam Doktrin, h. 79

[34] Lihat Muhammad Hatta, Krisis Dunia dan Nasib Rakyat Indonesia. Tulisan ini dimuat sebagai Prolog dalam, Muhidin M. Dahlan (Editor), Sosialisme Religius; Suatu Jalan Keempat? (Cet: II, Kreasi Wacana, Yogyakarta, Agustus 2000).

[35] Bonnie Setiawan, Menyusuri Paradigma Alternatif Pasca-Kapitalisme; Menimbang Tradisi Kiri, dalam Ibid, h. 48

[36] Ernest Gellenr, Conditions of Liberty, Civil Society ang Its Rival, terjemahan Indonesia oleh Ilyas Hasan, Membangun Masyarakat Sipil;Prasyarat Menuju Kebebasan, (Cet I; Mizan, Bandung, Oktober 1995), h. 34

[37] Islam Doktrin, h. xvii.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s