PROPOSAL PENELITIAN TESIS

PROPOSAL PENELITIAN TESIS

PENGARUH PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID TERHADAP PEMBINAAN KADER HMI

DI AMBON

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakikatnya, perilaku beragama yang melekat dalam kehidupan komunitas muslim merupakan personifikasi institusional yang merepresentasikan mazhab tertentu. Perilaku yang muncul dalam praktek keagamaan bukan semata-mata hasil pemahaman individual terhadap sumber ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan Sunnah, melainkan tidak terlepas dari faktor genetis, ideologis, sosiologis, dan intelektualitas.[1]

Kondisi yang sama terjadi dalam lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi mahasiswa yang cukup tua di Indonesia, yang didirikan di Yogyakarta tahun 1947.[2] Bahwa corak berfikir keislaman Nurcholis Madjid – selanjunya akan disebut Cak Nur – dianggap cukup berpengaruh terhadap pembentukan karakter berfikir keislaman dan menjadi warna tersendiri dalam kajian-kajian keislaman HMI.

Dalam lingkungan HMI Cak Nur menjadi Begawan. Para kadernya tak jarang mengutip pemikiran-pemikirannya. Karya-karya Cak Nur seperti menjadi referensi wajib bagi mereka, sehingga tulisan, perkataan dan gagasan-gagasan mereka memiliki kemiripan intelektual yang nyaris seragam. Sebagai rujukan Cak Nur memang menempati posisi dominan di banding dengan tokoh2 lainnya dan ini menyebabkan generasi muda setelah Cak Nur di kritik sebagai tidak mandiri dan sangat bergntung pada sosok Cak Nur.[3] Kenyataan ini, cukup untuk menyebut bahwa Cak Nur sangat  berjasa dalam meletakkan dasar-dasar bagi perubahan masyarakat. Dalam konteks pengkaderan, Cak Nur juga berjasa dalam pembentukan bakat-bakat intelektual dan menulis para yuniornya dilingkungan kampus dan organisasi HMI.[4]

Pengaruh Cak Nur semakin terasa ketika selama masih aktif di HMI, Cak Nur menyusun sebuah dokumen sebagai bagian dari silabus perkaderan HMI, khususnya menyangkut materi keislaman yang saat itu dianggapnya kurang mendapat tempat yang memadai ketimbang materi-materi organisasi dan politik.[5] Materi yang disusun Cak Nur ini dikenal dengan “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI.”

Dalam tulisanya, Cak Nur mengisahkan bahwa semula NDP ini ingin dinamakan Nilai Dasar Islam (NDI), akan tetapi kesan klaimnya cukup tinggi, seolah-olah hanya inilah nilai Islam, maka ini dihindari dan kemudian disesuaikan dengan aktifitas HMI yakni sebagai organisasi mahasiswa. Selanjutnya Cak Nur menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Willy Eicher dengan judul The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Sosialism (Nilai-Nilai Dasar dan Tuntutan-Tuntutan Asasi Sosialisme Demokrat). Dari buku inilah Cak Nur terispirasikan untuk mengambil sitilah “Nilai-Nilai Dasar”. Sedangkan kata perjuangan diambil dari buku Syahrir yang berjudul Perjuangan Kita, maka jadilah NDP tersebut.[6] Konsep ini kemudian dibawah ke Kongres[7] HMI ke-IX di Malang untuk diformalkan menjadi dokumen resmi organisasi.

Menurut Cak Nur, bahwa selain keindonesiaan dan kemahasiswaan, kualifikasi HMI sebagai gerakan pemuda adalah keislaman, maka selain harus tampil sebagai pendukung nilai-nilai keindonesiaan dan kemahasiswaan, HMI juga harus tampil sebagai pendukung nilai-nili keislaman. Sekalipun dukungan pada nilai-nilai keislaman itu tetap dalam format yang tidak dapat dipisahkan dari keindonesiaan dan kemahasiswaan. Artinya, penghayatan HMI pada nilai-nilai keislaman itu tidak dapat lepas dari lingkungan keindonesiaan (antara lain demi efektifitas dan fungsionalitas keislamannya itu sendiri), dan juga tidak terlepas dari nilai kemahasiswaan (yaitu suatu pola penghayatan keislaman yang lebih cocok dengan kelompok masyarakat yang menikmati hak istimewa sebagai anggota civitas academica).[8]

Secara umum pengaruh pemikiran keislaman Cak Nur terhadap HMI implisit di dalam dokumen NDP yang disusun Cak Nur dalam beberapa bab diantaranya; Dasar-dasar Kepercayaan, Pengertian-pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan, Ketuhanan Yang Maha Esa dan Masalah Kemanusisaan, Kebebasan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir), Individu dan Masyarakat, Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi, Islam dan Ilmu Pengetahuan.[9] Yang membuat Cak Nur termotivasi untuk menyusun NDP HMI adalah untuk memberi panduan bagi kader HMI agar bisa memahami Islam dengan baik dalam dimensi ruang dan waktu dan menjadi acuan untuk memahami Islam secara lebih komprehensif dan rasional.[10]

Kemudian dari tahun ketahun, dokumen NDP itu sejak keberadaanya hingga sekarang, selain berfungsi sebagai tafsir asas Islam HMI,[11] NDP juga menjadi rujukan penting dalam setiap proses pengkaderan HMI, khususnya dalam pemberian materi-materi keislaman. Bahkan untuk memahami NDP ini, dalam pengkaderan HMI, dialokasikan waktu khusus untuk menjabarkan NDP secara utuh dan komprehensip.

Perlu juga diketahui bahwa dalam NDP HMI tidak ditemukan bahasan tentang ajaran-ajaran yang bersifat teknis fiqhiyah, namun lebih memuat nilai-nilai yang bersifat universal, maka NDP menjadi sangat sulit dipahami. Bukan hanya itu, karena pebahasaannya yang sulit dipahami dan ini menurut Cak Nur disengaja karena NDP dimaksudkan sebagai kumpulan nilai, maka penguaraian/penjelasan NDP dalam proses pengkaderan disetiap HMI cabang[12] pun menjadi sangat beragam.

Pada hakikatnya semangat kelahirkan NDP HMI paralel dengan semangat kelahiran HMI itu sendiri, hanya saja dalam kasus NDP, Cak Nur sangat berperan dalam mengkoseptualisasikannya secara lebih sistematis, utuh dan komprehensif.[13]

Dari penjelasan tersebut, dapatlah dikatakan bahwa NDP HMI yang disusun Cak Nur mendapat tempat yang cukup kuat bagi pembentukan karakter berfikir keislaman HMI. Hal ini menandakan bahwa pemahaman keislaman HMI cukup kuat dipengaruhi oleh sosok Cak Nur.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Masalah pokok yang menjadi objek pembahasan dalam penelitian ini adalah melihat, sejauh mana pengaruh pemikiran Nurcholis Madjid yang termuat dalam rumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) terhadap karakter berfikir keislaman Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), khususnya di HMI Cabang Ambon.

Untuk memfokuskan pembahasan dalam penelitian ini, maka penulis perlu membuat rumusan masalah diantaranya;

  1. Bagaimanakah pemikiran Nurcholis Madjid yang terkonseptualisasikan dalam rumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI?
  2. Bagaimanakah pemahaman anggota HMI Cabang Ambon terhadap konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI?
  3. Bagaimana pengaruh Pemikiran Nurcholis Madjid terhadap pembinaan kader HMI di Ambon?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui konsep pemikiran Nurcholis Madjid yang termuat dalam rumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI
  2. Untuk mengkaji pemahaman anggota HMI Cabang Ambon terhadap konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan
  3. Untuk menganalisis pengaruh pemikiran Nurcholis Madjid terhadappembinaan kader HMI Cabang Ambon.

2. Kegunaan Penelitian

  1. Kegunaan ilmiah: Penelitian ini diharapkan dapat menambah atau memperkaya khazanah intelektual dalam diskursus dan kajian-kajian keislaman.
  2. Kegunaan praktis: Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut terhadap konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (NDP-HMI) yang dirumuskan oleh Nurcholis Madjid, khususnya kepada kaders-kaders HMI cabang Ambon, dan kaders-kaders HMI pada umumnya.

D. Pengertian Judul dan Defenisi Operasional

Proposal penelitian ini di beri judul “Pengaruh Pemikiran Nurcholis Madjid Terhadap Pembinaan Kader HMI di Ambon”. Untuk menghindari kekeliruan interpretasi dalam memahami pengertian judul tersebut, penulis merasa perlu untuk memberikan batasan atau pengertian tentang variabel yang menjadi fokus dalam penelitian ini.

Variabel Pertama adalah “Pengaruh Pemikiran Nurcholish Madjid”. Dalam salah satu tulisannya, Fachri Ali mendefenisikan pemikiran Islam sebagai refleksi intelektual yang sistematis dalam menanggapi permasalahan individual, sosial-politik, ekonomi dan kebudayaan dari perspektif Islam.[14] Dalam hal ini Cak Nur merupakan salah satu tokoh pembaharu dan pemikir Islam Indonesia yang sangat produktif melontarkan gagasan-gasannya.[15]

Yang dimaksud dalam variabel ini secara umum adalah keseluruhan pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur). Namun, mengingat begitu banyaknya pemikiran yang pernah dilontarkan Cak Nur, maka terasa sangat naif untuk membahas dan menguraikannya secara keseluruhan dalam penelitian tesisi ini. Olehnya itu, penulis hanya akan membahas secara parsial pemikiran Cak Nur yang tertuang dalam rumusan konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang disusun oleh Cak Nur sendiri. Meski demikian, orientasi dan pembahasan tesis ini juga tidak menutup kemungkinan akan dihubungkan dengan tema atau masalah lainnya dalam rangka memperkaya khazanah pembahasan.

Variabel Kedua adalah “Pembinaan Kader HMI di Ambon”. Dalam tesis ini yang di maksud dengan pembinaan adalah suatu aktifitas perkaderan, baik perkaderan formal maupun nonformal dalam organisasi HMI. Sedangkan yang dimaksud dengan kader HMI adalah sebagaimana yang terumuskan dalam kongre ke-8 HMI tahun 1966, bahwa kader HMI adalah tulangg punggung organisasi, pelopor, penggerak, pelaksana, penyelamat cita-cita HMI masa kini dan yang akan datang di manapun berada, tetap berorientasi kepada asas dan syariat Islam.[16]

Secara organisatoris dan struktural, sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI memiliki cabang diseluruh Indonesia dengan jumlah anggota yang tersebar pada perguruan tinggi yang terdapat pada setiap daerah, salah satunya di Kota Ambon, yang akan di sebut dengan HMI Cabang Ambon. Dengan demikian maka yang akan menjadi pembahasan dalam tesisi ini adalah menganalisis pengaruh pemikiran Cak Nur yang terdapat dalam rumusan NDP HMI terhadap keseluruhan aktifitas perkaderan yang dilakukan oleh kader HMI di Ambon.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hubungan dengan penelitian sebelmunya

Pada umumnya, pemikiran-pemikiran Cak Nur, khususnya yang berkaitan dengan kajian-kajian keislaman seakan menjadi hal yang selalu menarik didiskusikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan, banyak pemikiranya menjadi objek kajian yang banyak tertuang dalam buku-buku seputar diskursus kajian-kajian keislaman.

Berdasarkan hasil pencarian beberapa literatur, di temukan beberapa hasil penelitian yang memiliki korelasi dengan judul penelitian ini. Diantaranya tesis yang disusun oleh Hasanuddin M. Saleh dengan judul Dinamika HMI dalam Isu Asas Tunggal Pancasila.[17] Dalam tesis ini penulisnya membahas dinamika pergerakan HMI yang saat itu berasaskan Islam, namun berhadapan dengan kebijakan pemerintah Orde baru yang memberlakukan asas tunggal Pancasila bagi seluruh organisasi, maka HMI juga mengubah asasnya menjadi Pancasila pada kongres ke-XVI tahun 1986.

Hasil penelitian lain adalah disertai yang disusun oleh Berliana Kartakusumah dengan judul Pengembangan Kepemimpinan Tokoh HMI; Studi Kasus Tentang Performansi Proses Pembelajaran, Kepribadian, Visi, Kemampuan, Prestasi dan Penerimaan Lingkungan Tokoh HMI dalam Perspektif Pembelajaran Sepanjang Hayat.[18] Dalam disertasi ini dikaji beberapa tokoh-tokoh HMI diantaranya adalah sosok Nurcholish Madjid yang oleh penulisnya dikategorikan sebagai sosok Muslim pembaru.

Penulis juga menemukan hasil penelitian skripsi yang di susun oleh Abdul Aziz dengan judul Posisi Ijtidat Dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI.[19] Dalam skripsi ini penulisnya mencoba mengungkapan potensi dan peluang ijtihad yang terdapat dalam konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI.

B. Landasan teori

Dalam kehidupan akademik kontemporer, disiplin-disiplin ilmu mulai dari studi literatur, sampai pada studi fisika, agama, dan etika,– menurut M. Amin Abdullah – semuanya dapat menerima premis yang telah diperjuangkan oleh Karl Manheim yang beranggapan bahwa “seluruh aspek dari keberadaan dan pengetahuan seseorang adalah ditentukan oleh situasinya, pemikiran dan aksi membentuk suatu kesatuan, dan perkembangan intelektual suatu masyarakat tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan historis yang konkret.”[20]

Mengikuti tradisi teori sosial kritis, bahwa ada tiga kepentingan dalam setiap pemikiran, yatu teori sosial yang berkepentingan teknis, praktis, dan emansipatoris, dengan masing-masing sifat ilmunya yang empiris-analitis, historis-hermenuitis, dan sosial-kritis.[21] Tiga bentuk kepentingan Islam-Sosial tersebut muncul sejalan dengan persepsi masing-masing mengenai modernitas. Karena itu dalam soal tersebut, dapat dikatakan bahwa, tiga kepentingan tersebut adalah bentuk penerjemahan Islam dalam realitas sosial umat Islam.[22]

Menurut Jalaluddin Rahmat, terdapat dua kategori Islam, yakni Islam Konseptual dan Islam Aktual. Kategori Islam Konseptual terdapat dalam al-Qur’an, sunnah Nabi Saw, dan buku-buku atau ceramah-ceramah tentang keislaman. Sedangkan Islam aktual terdapat dalam aktualisasi perilaku pemeluknya.[23] Dari sudut pandang ini, menarik kalau kita memperhatikan komentar Ahmad Wahib bahwa, kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values (nilai-nilai terakhir) dalam Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan.[24]

Kalau Islam konseptual adalah Islam teoritis, maka Islam aktual adalah Islam yang praktis. Dari sudut pandang sosiologi pengetahuan, diketahui bahwa dalam Islam yang teoritis maupun yang praktis itu, termuat berbagai bentuk hubungan teori dan praktik politik. Sebab, Islam yang pada dirinya sendiri, tidak ada yang tahu kecuali Allah sendiri. Sehingga Islam yang dirumuskan adalah Islam yang ditafsirkan, dan bagaimana seorang menafsirkannya, tergantung dari berbagai kepentingan politis, yang baik disadarinya atau tidak.[25]

Penjelasan diatas mengindikasikan bahwa sebuah pemikiran (Islam) adalah produk sejarah yang di dalamnya berbagai masalah sosial, politik, ekonomi, dan juga kebudayaan ikut memainkan peran. Seluruhnya atau sebagian dari aspek tersebut membentuk suatu situasi duniawai yang didalamnya “sang pemikir” hidup dan berada. Sementara itu, kayakinan iman seorang pemikir Muslim membentuk situasi lain yang bersifat transendental. Sintesis-dialektik kedua situasi tersebut mempengaruhi bentuk pemikiran Islam.[26]

Dalam bukunya Intelektual Integensia dan Perilaku Politik Bangsa, M. Dawam Rahardjo dalam mengkaji sosiologi cendekiawan Muslim, melihat bahwa secara umum ada empat faktor yang dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap Islam. Satu dari empat faktor tersebut sebagaimana di ungkap Dawam Rahardjo adalah, lingkungan organisasi yang menyelenggarakan dakwah keislaman. Melalui penyebaran ide dan gagasan keagamaan, organisasi semacam ini dapat memasuki dan mempengaruhi kehidupan keagamaan seseorang yang lebih serius.[27]

Pendapat Dawam Rahardjo, ketika dihubungkan dengan HMI, maka selain berstatus sebagai organisasi mahasiswa dan berperan sebagai organisasi perjuangan[28], didalamnya juga terdapat misi dakwah Islam. Hal ini dapat dilihat dalam rumusan tujuan HMI itu sendiri yakni, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wata ’ala.”[29]

C. Kerangka Pikir

Pada kesempatan ini penulis bermaksud mengkaji pengaruh pemikiran Nurcholish Madjid yang termuat dalam rumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang dalam bahasa HMI adalah “Islam versi HMI”.[30] Penggunaan Islam versi HMI ini dapat dimaknai sebagai suatu bentuk corak berfikir keislaman yang ada pada seluruh anggota HMI.

Dengan memperhatikan asumsi Ahmad Wahib yang telah dikemukakan dalam landasan teori diatas, maka dapat dilihat dasar filosofis pemikiran Cak Nur  yang oleh menurut Mulydi Kartanegara terbangun dari asas relativisme, yang selalu melihat penafsiran atau pemahaman keagamaan adalah hal yang relatif terhadap perkembangan ruang dan waktu. Karena itu diperlukan selalu usaha reinterpretasi ajaran agama menurut kedisinian dan kekinian.[31] Usaha-usaha reinterpretasi ini tentunya membutuhkan daya dan kemampuan manusia untuk melaksanakannya.

Dalam bukunya yang berjudul Islam, Doktrin, dan Peradaban, Cak Nur menekankan dimensi kemanusiaan dalam usaha memahami ajaran agama. Agar suatu ajaran agama berada dalam daya dan kemampuan manusia untuk melaksanakannya, maka manusia harus membawanya kedalam dirinya, ke dalam lingkungan yang menjadi batas kemampuannya, sebab jika tidak demikian maka keberadaan agama menjadi absurd, dan inilah yang dinamakan pemahaman.[32] Tekanan pada segi kemanusiaan ini, menjadi semakin relevan, bahkan mendesak, dalam menghadapi era globalisasi.[33]

Apa yang dapat diamati kemudian adalah produk-produk historis pemikiran Islam yang dapat dihubungkan dengan cara beradanya seorang pemikir, termasuk juga yang dimaksud adalah, pengaruh sosok seorang tokoh dalam lingkungannya. Melalui proses pemikiran tersebut, Islam sebagai agama wahyu kemudian memasuki dunia antropologis dan sosiologis. Dalam hal ini, Islam dalam konteks pemikiran adalah Islam sebagaimana dipahami, dipikirkan dan dijalani oleh pemeluknya. Semua pemikiran-pemikiran tersebut tidak lahir dalam kehampaan sejarah, namun tetap memiliki hubungan dengannya.

Dari asumsi di atas dapat dibuat kerangka fikir sebagai berikut;

ISLAM

HMI                                     NURCHOLISH MADJID

NDP

Dari kerangka pikir ini dapat dimaknai bahwa yang menjadi sumber inspirasi dari segala bentuk pemikiran Nurcholish Madjid adalah nilai-nilai (values) Islam, dan nilai-nilai tersebut tidaklah berubah-ubah, yang berubah adalah pemahaman terhadap nilai-nilai itu yang selalu di kontekstualisasikan dalam lingkungan seorang pemikir sehingga ikut berpengaruh terhadap pemikiran-pemikirannya.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Pendekatan

Metode utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Dalam tinjauan sosiologis masyarakat dilihat sebagi suatu kesatuan yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang sudah teratur. Sehubungan dengan ini, Astrid  S. Susanto, mengungkapkan bahwa masyarakat merupakan suatu kesatuan yang dalam bingkai strukturnya (proses strukturnya) diselidiki oleh sosiologi.[34]

Dengan pendekatan sosiologis tersebut diharapkan suatu fenomena sosial dapat dianalisis dengan menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan sosial, faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses dalam masyarakat tersebut.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada institusi/organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa, HMI yang adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang tersebar diseluruh Indonesia, termasuk di kota Ambon, sebagai bagian dari institusi HMI secara nasional yang secara spesifik belum ada penelitian mengenai masalah yang diangkat.

C. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan keseluruhan objek[35] yang menjadi sasaran dalam penelitian ini, yang mencakup seluruh anggota institusi HMI yang tersebar pada perguruan tinggi yang ada di Kota Ambon.

Anggota HMI Cabang Ambon secara totalitas berjumlah 1249, terdiri dari para mahasiswa yang tersebar di seluruh perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri yang ada di Kota Ambon dan sekitarnya. Diantaranya; Universitas Pattimura (UNPATTI) Ambon (negeri) yang berjumlah 398 anggota, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon (negeri) berjumlah 314 anggota, Universitas Darussalam (UNIDAR) Ambon (swasta) berjumlah 451 anggota, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Alazka Ambon (swasta) 31 anggota, dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP Hatta-Syahrir) Banda yang berjumlah 55 anggota. STP Hatta-Syahrir ini terletak di Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah, namun secara administratif ke-HMI-an masuk pada wilayah HMI Cabang Ambon.

Dari perguruan tinggi tersebut, yang akan diambil menjadi sampel adalah anggota HMI yang ada pada UNPATTI sebanyak 20 orang, dari IAIN sebanyak 15 orang, dan UNIDAR sebanyak 15 orang. Khusus untuk UNPATTI, meskipun jumlah anggotanya lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota pada UNIDAR Ambon, namun karena sebaran anggota pada fakultas/komsariat lebih banyak, maka jumlah sampelnya juga diambil lebih banyak.

Selain itu, penarikan sampel ini juga atas pertimbangan keanggotaan pada tiga perguruan tinggi tersebut secara kuantitatif lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya. Selain itu usia keberadaan HMI pada ketiga kampus tersebut juga relatif lebih lama keberadaanya, dan merupakan pertimbangan representatif perguruan tinggi negeri dan swasta.

Mengingat metode utama dalam penelitian ini adalah kualitatif, yang dalam tradisi metode ini penentuan jumlah sampel sangat tergantung dengan kebutuhan informasi menyangkut masalah yang diteliti. Oleh karenanya dalam penentuan sampel, peneliti akan menentukan orang-orang yang dianggap kompeten dan cakap dalam memahami masalah penelitian ini.

D. Teknik Pengumpulan Data

a. Penelitian Kepustakaan (Library research)

Pada tahapan ini peneliti akan mengumpulkan dan mengoleksi berbagai literatur, yang dianggap mempunyai korelasi langsung atau tidak langsung dengan masalah yang diteliti.

b. Penelitian Lapangan (Field research)

Pada tahapan ini peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara secara umum dan terbuka, dan mengumpulkan beberapa dokumentasi untuk memperoleh informai secara luas mengenai hal-hal umum tentang objek penelitian.

1)  Observasi. Dalam tahapan ini, penulis akan melakukan pengamatan secara langsung dengan fokus pengamatan pada “proses pengkaderan”. Pengamatan akan dilakukan khususnya dalam pemberian materi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) secara khusus, dan pemberian materi-materi keislaman secara umum.

2)  Wawancara. Wawancara ini dilakukan dengan dua cara;

a)       Wawancara mendalam dalam bentuk percakapan informal dengan menggunakan pedoman wawancara yang memuat pokok-pokok pertanyaan yang akan diajukan, tetapi peneliti akan secara bebas mengubah formulasi dan urutan pertanyaan, bila hal ini memungkinkan.

b)  Fokus Group Diskusi (FGD). Pada tahap ini penulis akan mengumpulkan beberapa orang yang termasuk dalam sampel untuk melakukan diskusi dan membuka ruang dalam memberikan argumen-argumen yang sesuai dengan masalah dalam penelitian ini

3)  Dokumentasi. Sumber data yang akan dikumpulkan dalam tahapan ini meliputi, dokumen baku organisasi, arsip keanggotaan, dokumen-dokumen historis yang tidak baku, dokumen berupa makalah/paper/opini dan sejenisnya yang berhubungan dengan objek dan masalah yang diteliti.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan bagian penting dalam suatu proses penelitian. Hal ini karena dengan analisis, data tersebut dapat mengandung makna yang berguna dalam menjelaskan atau memecahkan masalah penelitian.[36] Dalam tahap ini, peneliti akan membagi data yang telah dikumpulkan menjadi beberapa kategori dan diproses sehingga data tersebut dapat memecahkan masalah. Analisis data ini akan dilakukan denga metode;

a. Reduksi data

Metode ini dilakukan dengan cara menyusun data-data yang telah dikumpulkan dalam bentuk uraian yang lengkap dan banyak. Data-data tersebut kemudian direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, dan di fokuskan pada hal-hal penting yang berkaitan dengan masalah. Data yang telah direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil observasi dan wawancara.

b. Displai data

Analisis ini dilakukan mengingat data yang terkumpul itu sangat banyak, yang dapat menimbulkan kesulitan dalam merincinya yang juga bisa berpengaruh untuk mengamil kesimpulan, sehingga untuk memetakannya akan dibuat dalam model, atau matriks, sehingga keseluruhan data dan bagain-bagian detailnya dapat dipetakan dengan jelas.

c. Kesimpulan dan verifikasi

Data yang sudah dipolakan tersebut, kemudian difokuskan dan disusun secara sistematis, baik melalui penentuan tema, model, maupun matriks. Kemudian melalui induksi data tersebut disimpulkan sehingga makna data dapat ditemukan.

KOMPOSISI BAB

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan dan Batasan Masalah
  3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  4. Pengertian Judul dan Defenisi Operasional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Hubungan dengan penelitian sebelumnya
  2. Landasan Teori
  3. Kerangka Pikir

BAB III METODE PENELITIAN

  1. Metode Pendekatan
  2. Lokasi Penelitian
  3. Populasi dan Sampel
  4. Teknik Pengumpulan Data
  5. Teknik Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Profil HMI Cabang Ambon
  2. Pemikiran Keislaman Nurcholis Madjid dalam NDP HMI
  3. Pemahaman Kader HMI Cabang Ambon Terhadap NDP HMI
  4. Pengaruh Pemikiran Nurchilish Madjid Terhadap kader HMI Cabang Ambon

BAB V PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, Cet I; Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Februari 2006

Abdul Halim, Editor, Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan Yang Membebaskan; Refleksi Atas Pemikiran Nurcholis Madjis, Cet II; Buku Kompas, Jakarta, Oktober 2006)

Arikunto, Suharsismi, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan, Cet IX; Rineka Cipta, Jakarta, 1993

Bakri, Syamsul, Mudhofir, Mudhofir Abdullah , Jombang-Kairo, Jombang-Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia (Tiga Serangkai, 2004)

Dokumen PB HMI tetang NDP HMI

Effendi, Djohan, dan Ismet Natsir, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, Jakarta, LP3ES, 1981

Fay, Brian, Sosial Theory and political Practice, London, Geogre Allen & Unwin, 1984

Gunawan, Asep, (Ed), Artikulasi Islam Kultural, Dari Tahapan Moral ke Periode Sejarah, Cet I; PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, Maret 2004

Handrianto, Budi, 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agama, Cet; I, Hujjah Press, Jakarta, Mei 2007

Hodgson, Marshall G. S. The Venture of Islam, Consciense and History in a World Civilization, Jilid I. Diterjemahkan oleh Mulyadhi Kartanegara dengan judul The Venture of Islam, Iman dan Sejarah Dalam Peradaban Dunia, Cet; II, Paramadina, Jakarta, Agustus 2002

Kahmad, Dadang, Metode Penelitian Agama, Cet I; Pustaka Setia, Bandung, 2000

Ketetapan Hasil Kongres HMI ke-XXV, di Makkassar, tahun 2006

Madjid, Nurcholis, “Gagasan dan Latar Belakang Perumusan NDP HMI”, dalam, HMI Menjawab Tantangan Zaman, Gunung Kulabu, Jakarta, 1990

_______Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, Cet I; Paramadina, Jakarta 1992

_______Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia, Cet I; Paramadina, Jakarta, Januari 1997

_______Masyarakat Religius Membumikan Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat, Cet II; Paramadina, Jakarta, April 2002

_______ Islam Kemodrenan dan Keindonesiaan, Cet, XI; Mizan, Bandung, November 1998

_______Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Politik Kontemporer, Cet I; Paramadina, Jakarta, Januari 1998

Munawar-Rachman, Budhy, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Cet I; RajaGrafindo Persada, Jakarta 2004

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Cet VI; PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, Oktober 2001

Rahmat, Jalaluddin Islam Aktual, Mizan, Bandung, 1991

_______,Islam Alternatif, Ceramah-ceramah di Kampus, Cet III; Mizan, Bandung, 1989

_______, et.al, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Jejak Pemikiran Dari Pembaharu Sampai Guru Bangsa, Cet II; Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Agustus 2003

Saebani, Beni Ahmad, Sosilogi Agama: Kajian Tentang Perilaku Institusional dalam Beragama Anggota Persis dan NU, Cet I; Refida Aditama, Bandung, April 2007)

Sitompul, Agus Salim, Dokumen Landasan Perjuangan HMI dalam Lintasan Sejarah, dalam, Menuju Masyarakat Cita: Refleksi atas Persoalan-Persoalan Kebangsaan, Badko HMI Malirja, 1999

Shofan, Moh, Jalan Ketiga Pemikiran Islam, Mencari Solusi Perdebatan Tradisionalisme dan Lieralisme, Cet; I, IRCiSoD, Jogjakarta, April 2006

Tarigan, Azhari Akmal, Islam Mazhab HMI, Tafsir Tema Besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), Cet; I, GP Press Group, Jakarta, November 2007


[1] Beni Ahmad Saebani, Sosilogi Agama: Kajian Tentang Perilaku Institusional dalam Beragama Anggota Persis dan NU, (Cet I, Refida Aditama, Bandung, April 2007), h. ix

[2] Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia). Lihat Agussalim Sitompul, Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Makalah di presentasikan pada Latihan Kader I HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, November 2007

[3] Syamsul Bakri, Mudhofir, Mudhofir Abdullah , Jombang-Kairo, Jombang-Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia (Tiga Serangkai, 2004), h. 79-80

[4] Ibid., h. 81

[5] Azhari Akmal Tarigan, Islam Mazhab HMI, Tafsir Tema Besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), (Cet; I, GP Press Group, Jakarta, November 2007), h.

[6] Lihat, Nurcholis Madjid, “Gagasan dan Latar Belakang Perumusan NDP HMI”, dalam, HMI Menjawab Tantangan Zaman, (Jakarta, Gunung Kulabu, 1990), h. 9

[7] Istilah Kongres adalah forum pengambilan keputusan  tertinggi dalam HMI. Lihat ART HMI, pasal 11 ayat (b), dalam Dokumen PB HMI, Ketetapan Hasil Kongres HMI ke-XXV, di Makkassar, tahun 2006

[8] Nurcholis Madjid, Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia, (Cet, I; Jakarta, Paramadina; Januari 1997), h. 89

[9] Lihat, Dokumen PB HMI tetang NDP

[10] Azhari Akmal Tarigan, Op.Ci.t, h. 2-3

[11] HMI menjadikan Islam sebagai azasnya, lihat, pasal 4 AD HMI, dalam Dokumen PB HMI, Ketetapan Hasil Kongres HMI ke-XXV, di Makkassar, tahun 2006. Lihat juga, memori penjelasan tentang Islam sebagai Azas HMI

[12] HMI Cabang merupakan satu kesatuan organisasi (HMI) yang dibentuk di Kota Besar atau Ibukota Propinsi/Kabupaten/Kota yang terdapat perguruan tinggi. Lihat, ART HMI Pasal 29, (a), Ketetapan Hasil Kongres HMI ke-XXV, di Makkassar, tahun 2006

[13] Lebih lanjut lihat, Agus Salim Sitompul, Dokumen Landasan Perjuangan HMI dalam Lintasan Sejarah, dalam, Menuju Masyarakat Cita: Refleksi atas Persoalan-Persoalan Kebangsaan, (Jakarta; Badko HMI Malirja, 1999), h. 179-185

[14] Lihat Fachri Ali dalam Ihsan Ali-Fauzi, “Pemikiran Islam di Indonesia Dekade 1980-an”, dalam Jalaluddin Rakhmat, et.al, Op.Cit, h. 237

[15] Hal ini sangat wajar ketika melihat banyak apresiasi yang di berikan atas gagasan-gagasan yang pernah di lontarkan Cak Nur di awal dekade 70-an. Saat itu Cak Nur membawakan makalah dengan judul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” dalam acara silaturrahim mahasiswa Persami, HMI, GPI, dan PII pada tanggal 3 Januari 1970. Dalam makalah tersebut Cak Nur melontarkan ide tentang “Islam Yes, Partai Islam No” serta masalah Sekularisasi”, yang kemudian melahirkan berbagai kontraversi. Lihat, Nurcholish, Islam Kemodrenan, Op.Cit, h. 204-207. Sedangkan salah satu apresiasi (kritikan) atas gagasan Cak Nur datang dari Prof. H. M. Rasyidi. Lihat, H. M. Rasyidi, Koreksi Terhadap Drs. Nurcholis Madjid Tentang Sekularisasi, (Bulan Bintang;Jakarta 1972).

[16] Hasil Keputusan Kongres HMI ke-8 tahun 1966 dalam, Agussalim Sitompul, Perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam, (Makalah dipresentasikan pada Up Grading Pengurus dan Latihan Khusus HMI Cabang Presiapan Praya NTT, tanggal 3-4 September 2004, diterbitkan oleh HMI Cabang Praya, 2004), h. 3

[17] Hasanuddin M. saleh, Dinamika HMI dalam Isu Asas Tunggal Pancasila, (Tesis pada program Pascasarja program studi Ilmu Politik Universitas Gaja Mada), Yogyakarta 1996. Tesis ini telah diterbitkan dengan perubahan judul menjadi “HMI dan Rekayasa Asas Tunggal Pancasila, (Yogyakarta; Penerbit Pustaka Pelajar, 1996)

[18] Berliana Kartakusumah, Pengembangan Kepemimpinan Tokoh HMI; Studi Kasus Tentang Performansi Proses Pembelajaran, Kepribadian, Visi, Kemampuan, Prestasi dan Penerimaan Lingkungan Tokoh HMI dalam Perspektif Pembelajaran Sepanjang Hayat, (Disertasi untuk memperoleh Gelar Doktor Ilmu Pendidikan dalam bidang Pendidikan Luar Sekolah PPS Universitas Pendidikan Indonesia Bandung), Bandung 2004. Disertasi ini telah diterbitkan menjadi buku dan mengalami perubahan judul menjadi “Pemimpin Adiluhung, Geneologi Kepemimpinan Kontemporer, (Jakarta; Penerbit Teraju, Maret 2006)

[19] Abdul Aziz, Posisi Ijtihat Dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI, (Skripsi untuk memperoleh Gelar Sarjana Jurusan Syari’ah Program Studi al-Akhwal al-Syakhsiyah pada STAIN Pamengkasan), Pamengkasan 2004

[20] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Cet I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Februari 2006), h. 60

[21] Brian Fay, Sosial Theory and political Practice, (London, Geogre Allen & Unwin, 1984)

[22] Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Cet I, Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2004), h. 355-356

[23] Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual, (Bandung, Mizan, 1991), h. 1

[24] Djohan Effendi, dan Ismet Natsir, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, (Jakarta, LP3ES, 1981), h. 18

[25] Budhy Munawar-Rachman, Op.Cit,  h. 355

[26] Abdul Munir Mulkan, Sekularisasi dan Ideologi Kaum Santri, dalam Jalaluddin Rahmat, et.al, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Jejak Pemikiran Dari Pembaharu Sampai Guru Bangsa, (Cet;II,Yogyakarta,Pustaka Pelajar;Agustus 2003), h. 204

[27] M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa, Risalah Cendekiawan Muslim, (Cet; I, Bandung, Mizan; Mei 1993), h. 31

[28] Lihat, AD HMI, Bab IV tentang Status, Fungsi dan Peran HMI, dalam Ketetapan Hasil Kongres HMI ke-XXV, di Makkassar, tahun 2006.

[29] Lihat, AD HMI Bab III Pasal 4 tentang  Tujuan HMI

[30] NDP HMI juga biasa disebut sebagai “Islam versi HMI” dengan maksud mengasumsikan bahwa NDP HMI itu sesungguhnya adalah cara berfikir atau pemahaman HMI terhadap Islam. Lihat penggunaan istilah “Islam versi HMI” dalam dokumen Program Kerja Nasional HMI. (PB HMI, 2008). Lihat juga, Azhari Akmal Tarigan, Op.Cit, h. vii

[31] Lihat Mulyadi Kartanegara, “Dasar-Dasar Pemikiran Cak Nur”, dalam Jalaluddin Rahmat, et.al, Op.Cit, h. 231

[32] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Cet;.I, Jakarta, Paramadina;1992), h. 328-329

[33] Ibid, h. xv

[34] Lihat Edwar W. Said dalam Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Cet. VI, Jakarta, RajaGrafino Persada, 2001), h. 344

[35] Suharsismi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan, ( Cet. IX: Rineka Cipta, Jakarta, 1993), h. 102

[36] Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, (Cet I, Pustaka Setia, Bandung, 2000), h. 95


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s