KEMBALI KEPADA FITRAH KEMANUSIAAN

Oleh: M. Asrul Pattimahu

Fitrah adalah kata yang lazim dikenal dan sering diucapkan. Bahkan tak jarang kata ini dipakai untuk memberikan nama perempuan (misalnya; Fitri atau Fitriyah) yang artinya (bersifat) suci, murni, mungkin juga kodrati atau alami.

Kata ini sering diucapkan terutama di akhir bulan ramadhan, pada waktu itulah, sebelum menjalankan shalat Idul Fitri kaum Muslim menjalankan kewajiban membayar zakat fitrah. Zakat fitrah menjadi simbol menandakan seseorang telah kembali kepada fitrahnya, yakni fitrah kemanusiaan.

Fitrah yang artinya juga adalah “murni” adalah sesuatu yang sesuai dengan asal kejadian alam manusia ketika pertama-tama diciptakan Tuhan. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Rum/30:30,” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Islam, sebagai agama, diciptakan sesuai dengan kejadian fitrah manusia tersebut.

Menurut Muhammad Asad, Fitrah atau kejadian asal pada diri manusia itulah yang memberinya kemampuan bawaan dari lahir untuk mengetahui yang benar dan salah, sejati dan palsu, dan dengan begitu manusia akan merasakan kehadiran Tuhan dan keesaan-Nya.

Manusia adalah makhluk yang terikat dengan perjanjian primordialnya – antara dirinya dengan Tuhan – sebagai makhluk yang sadar akan kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan, bahwa manusia akan benar-benar mengakui Dia sebagai Tuhan (Q.s. al-A’raf/7:172).

Kesadaran fitrawi dan ikatan primordial itulah yang melahirkan apresiasi kemanusiaan yang lebih tinggi yakni mempunyai sikap yang selalu positif akan nilai-nilai kebenaran, variannya adalah, bahwa manusia itu memiliki kecenderungan kepada kebenaran atau hanif.
Kata hanif artinya condog, cenderung, dan kata bendanya adalah kecenderungan. Yang dimaksud adalah kecenderungan kepada yang benar.

Kata hanif ini, dalam penjelasan Hadrat Mirza Nasih Ahmad yang merujuk pada beberapa sumber, memiliki beberapa pengertian: (a) orang yang meninggalkan atau menjahui kesalahan dan mengerahkan dirinya kepada petunjuk, (b) orang yang secara terus-menerus mengikuti kepercayaan yang benar tanpa ada keinginan untuk berpaling darinya, (c) orang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus mempertahankan secara kokoh, (d) seseorang yang mengikuti agama nabi Ibrahim, dan (e) yang percaya kepada seluru nabi-nabi.

Dalam bahasa ilmiah-empiris, menurut ajaran ini, kecenderungan asli atau dasar manusia adalah menyembah Tuhan Yang Satu. Ketika manusia mencari makna hidup , kecenderungan manusia adalah menemukan Tuhan Yang Esa, walaupun mungkin karena lingkungannya dapat mengalihkan pada pandangan selain Tuhan Yang Esa itu (Q.s: Yusuf/12:105). Sungguhpun demikian, kecenderungan fitrah manusia adalah kembali kepada Tuhan Yang Esa sebagai wujud hakiki kecenderungan kepada kebenaran.

Dalam perjalanannya, manusia selalu ditarik oleh dua unsur jasmaniah dan rohaniahnya sekaligus. Dalam kenyataannya, dua unsur tersebut selalu tarik menarik, dan inilah yang menimbulkan disharmoni (ketidakseimbangan). Karena itulah syariat di bentuk untuk menjaga ketidakseimbangan tersebut. Contoh yang jelas adalah perintah puasa. Dalam proses berpuasa itulah manusia mencari bentuk keseimbangan baru, baik pada tingkat individu maupun sosial.

Pada tingkat individu, puasa memberikan keseimbangan kepada manusia agar mampu mengendalikan dirinya. Disatu pihak manusia harus mengurangi kegiatan pemenuhan hasrat-hasrat jasmaniyah dengan manahan makan, minum, hubungan seksual, dan amarah.

Pada tingkat sosial, puasa diikuti pembayaran zakat fitrah bagi yang mampu mengeluarkannya. Zakat ini diperuntukan bagi yang fakir, miskin, dan yang membutuhkan, guna menciptakan keseimbangan sosial yang mungkin telah rusak karena aktifitas bisnis dan pertumbuhan ekonomi.

Kembali kepada fitrah adakalanya juga ditafsirkan sebagai kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan rohaninya secara seimbang. Tetapi gubahan dari kata ini, yaitu fithrah, mengandung pengertian “yang mula-mula diciptakan Allah”, yang tidak lain adalah “keadaan mula-mula”, “yang asal”, “yang asli”. Kata fitrah berasal dari kata fathara, yang arti sebenarnya adalah “membuka atau “membelah”.

Jadi makna idul fitri, setidaknya merujuk pada selain mengembalikan aktifitas normal kehidupan jasmani kita setelah sebulan lamanya di tahan, juga bermakna mengembalikan dan yang lebih penting adalah menekankan kembali akan kesadaran supremasi ke-Tuhan-an yang mungkin saja terusik oleh keragaman aktifitas lingkungan kita agar dikembalikan pada keadaan yang sebenarnya sebagaimana telah ada sejak awal kita dilahirkan dalam keadaan firi atau suci.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s