MENGILMIAHKAN POLITIK

MENGILMIAHAN POLITIK

Oleh :

M. Asrul Pattimahu

Berbicara mengenai politik, demikian lazimnya anggapan orang adalah bericara mengenai naluri kekuasaan yang dibenarkan secara sosial. Politik dalam arti seluas-luasnya adalah dimensi kekuasaan yang mengatur dan mengarahkan kehidupan sosial sebagai keseluruhan.  Sebagai alat konstruksi sosial, politik tidak bisa terpisahkan dari kehendak kehidupan sosial masyarakat sebagai bagian dari kehendak kemanusiaan secara universal. Kecenderungan memisahan politik dan kekuasaan dari kehendak masyarakat akan mengakibatkan hilangnya legitimasi kekuasaan itu sendiri.

Politik tidak hanya membutuhkan legitimasi. Meskipun lewat legitimasilah politik mendapat segi kognitifnya, namun politik tetap saja irasional. Politik membutuhkan pijakan epistemologis. Sekurang-kurangnya dewasa ini kecenderungan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan rasional bagi keputusan kehendak politik itu menunjukkan gejala yang di sebut Jurgen Habermas sebagai “pengilmiahan politik”. Masyarakat sebagai investor terbesar dalam memberian legitimasi mestinya diberi modal sosial yang mapam dalam menyeimbangi dimenasi kekuasaan yang lahir dari proses-proses politik.

Adalah Civil Society yang oleh Saiful Mujani diidentifikasi sebagai modal sosial yang terdiri dari dua unsur –  sikap saling percaya antar sesama warga dan jaringan keterlibatan dalam kehidupan kewargaan – untuk menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang cukup mampu mengimbangi kekuasaan Negara.

Pentingnya penguatan Civil Society sebagai modal sosial terletak pada asumsi bahwa demokrasi menuntut keterlibatan warga dalam aktifitas sosial, serta untuk menegaskan pentingnya penguasaan masyarakat dalam memberikan nilai terhadap berbagai regulasi Negara, apakah kehendak politik tersebut  memiliki muatan kognitif ataukah lebih cenderung pada tempramen politik yang dominan.

Sejauh melemahnya struktur masyarakat non pemerintahan akan semakin berpeluang terciptanya hierarki politik-ekonomi-ideologi tunggal yang tidak mentolerir adanya rivalitas kekuasaan. Meki demikian, Civil Society tidak dimaksudkan untuk menghalangi Negara dari peranannya sebagai penjaga perdamaian dan sebagai wasit diantara berbagai kepentingan besar, tapi dapat mengahalangi Negara dari perlakuan mendominasi dan mengatomisasi masyarakat.

Semakin menguatnya ketahanan masyarakat dalam bentuk Civil Society negara akan merasa perlu untuk menciptakan ruang pulik yang terbuka, seperti memperbanyak riset-riset yang dibiayai pemerintah dan pertimbangan-pertimbangan ilmiah  yang mendasari lahirnya kebijakan-kebijakan pulik. Dengan demikian Negara semakin kuat nilai legitmasinya diluar legitimasi dalam bentuk-benuk formal saja, sebab memang Negara atau kekuasaan memerlukan legitimasi agar dapat efektif bagi semua pihak. Kekuasaan harus tampak benar dihadapan pihak-pihak yang dikuasai. Dari sinilah akan lahir sebuah siklus dari keinginan rasionalisasi kekuasaan menuju proses pengilmiahan politik.

Pengilmiahan politik pada gilirannya mengangkat isu demokrasi dalam arti bentuk-bentuk komunikasi umum dan publik yang bebas dan terjamin secara istitusional. Komunikasi umum tersebut bukan hanya dalam perspektif institusi politik formal, namun menyangkut seluruh lapisan kehidupan sosial yang memungkinkan untuk membentuk opini-opini publik dalam melakukan transformasi dan penguatan terhadap kepuasan demokrasi masyarakat. Yang diharapkan kemudian adalah kritisisme dunia ilmiah yang dapat diterapkan dalam dunia politis. Sebab demokrasi tidak hanya sebatas faktualisasi massa dengan sarana pemungutan suara yang itu masih jauh dari konsep demokrasi dalam arti diskusi rasional diantara masyarakat untuk mencapai sebuah konsensus rasional bebas dominasi.

Dalam esainya tentang The Scientization of Politics and Public Opinion, Jurgen Habermas melihat rasionalisasi kekuasan sebagai menifestasi dari pengilmiahan politik. Ukurannya terletak pada sejauhmana kemesraan antara relasi kekuasaan politik dan kelompok intelektual yang mapan. Lebih banyaknya ruang komunikasi timbal balik antara kelompok intelektual dan penguasa pada gilirannya memungkinkan para intelektual tersebut memberikan nasihat ilmiah untuk pengambilan keputusan politik menurut kebutuhan-kebutuhan praktis. Setidaknya lewat relasi-relasi seperti itulah akan ikut melahirkan watak politik yang cenderung memiliki keabsahan intelektual.

Kekuasaan politik yang ditentukan oleh diskusi publik yang kritis merupakan kekuasaan politik yang dirasionalisasikan. Diskusi semacam itu hanya mungkin dilakukan di dalam suatu wilayah sosial yang bebas dari sensor dan dominasi. Sebab, dalam dunia politik dan pulbik dewasa ini yang terjadi bukan komunikasi bebas dominasi yang secara ideal kita bayangkan, melainkan komunikasi yang sangat padat distorsif, sehingga dunia politik kehilangan fungsi kritisnya.

Komunikasi semacam ini merupakan komunikasi yang tidak hanya terbangun atas legitimasi kekuasaan ideologis melainkan sebuah diskusi informatif ilmiah. Disini diandaikan bahwa, kemajuan-kemajuan dalam masyarakat diatur berdasarkan kebutuhan dan interpretasi atas kebutuhan-kebutuhan masyarakat secara historis dalam bentuk sistem-sistem nilai, sebaliknya kepentingan-kepentingan sosial, sebgaimana tecermin dalam sistem nilai masyarakat ditata dengan mengujinya menurut kemungkinan-kemungkinan teknis dan sarana-sarana teknis pemenuhannya.

Meski demikian, masalah pengilmiahan politik bukan hanya soal penentuan tujuan-tujuan rasional atas dasar pertimbangan rasional yang dilakukan oleh elit saja, namun lebih pada membuka akses yang luas bagi keterlibatan masyarakat dengan keseluruhan sistem sosial (Civil Society) yang ada. Jika politik adalah soal menentukan arah pembentukan diri masyarakat, politik yang rasional juga menuntut keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan. Artinya, politik betul-betul cermin aspirasi masyarakat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s